ProfilProfile

Dari tata kelola ke diplomasi dagangFrom governance to trade diplomacy

Yogyakarta · Jakarta · Sydney · Canberra

Agung Haris Setiawan lahir di Yogyakarta, 4 Mei 1979. Ia bukan membangun identitas dari daftar jabatan. Yang ia tawarkan adalah cara kerja: bagaimana kapasitas ekspor Indonesia dibangun — lewat pengetahuan, pasar, dan jejaring — supaya bisnis bisa tumbuh di pasar global.Agung Haris Setiawan was born in Yogyakarta on 4 May 1979. He does not build identity from a list of titles. What he offers is a way of working: how Indonesia’s export capacity is built — through knowledge, markets, and networks — so businesses can grow globally.

Jalur formalnya merentang S.E., S.H., M.A., dan M.Kn.: manajemen di STIE Kerjasama, hukum dan kenotariatan di Universitas Gadjah Mada, serta management di Saxion University, Belanda. Pendidikan itu menjadi alat baca — bukan hiasan nama.His formal path runs S.E., S.H., M.A., and M.Kn.: management at STIE Kerjasama, law and notarial studies at Universitas Gadjah Mada, and management at Saxion University in the Netherlands. That education is a reading tool — not an ornament on a name.

2008–2015 ia bekerja di Inspektorat Jenderal Kementerian Perdagangan: dari pelaksana sampai auditor. Di situ ia belajar mengapa banyak program ekspor berhenti sebelum sampai ke pelaku usaha — karena tata kelola, tindak lanjut, dan kelembagaan, bukan semata kualitas produk.From 2008–2015 he worked at the Inspectorate General of the Ministry of Trade: from staff to auditor. There he learned why so many export programs stop before they reach businesses — because of governance, follow-up, and institutions, not product quality alone.

2015–2018 ia memimpin ITPC Sydney. Intelijen pasar, promosi, business matching, dan hambatan dagang menjadi kerja harian di negara tujuan. Australia mengajarkan standar ketat: biosekuriti, reputasi, dan pembeli yang membaca ketentuan sebelum harga.From 2015–2018 he led ITPC Sydney. Market intelligence, promotion, business matching, and trade barriers became daily work in the destination country. Australia taught strict standards: biosecurity, reputation, and buyers who read the rules before the price.

2019–2022 di DJPEN Jakarta ia merakit kerja sama pengembangan ekspor Eropa dan pengembangan pasar. Pertanyaannya berubah: program mana yang bisa diulang, bukan event mana yang ramai seminggu.From 2019–2022 at DJPEN Jakarta he assembled European export-cooperation and market-development work. The question changed: which programs can be repeated, not which events are busy for a week.

2022–2026 ia menjadi Atase Perdagangan KBRI Canberra. Diplomasi, diaspora, bootcamp UMKM, Campuspreneur di ANU, dan kanal digital dijadikan satu infrastruktur. Pada 2024 ia menerima Primaduta Award dan penghargaan perwakilan perdagangan dengan sosial media terbaik.From 2022–2026 he served as Trade Attaché at the Indonesian Embassy in Canberra. Diplomacy, diaspora, SME bootcamps, Campuspreneur at ANU, and digital channels were treated as one infrastructure. In 2024 he received the Primaduta Award and the honour for the trade post with the best social media.

Ia menulis After Sahur Export Bootcamp (2026) dan Diaspora, Digitalisasi dan Diplomasi Dagang (2026). Situs ini adalah fondasi jangka panjang — termasuk untuk komunikasi publik — bukan CV ASN dan bukan website kementerian.He wrote After Sahur Export Bootcamp (2026) and Diaspora, Digitalisation and Trade Diplomacy (2026). This site is a long-term foundation — including for public communication — not a civil-service CV and not a ministry website.